peta indonesia

peta indonesia

Jumat, 17 April 2009

JadIlah pelita

Pada suatu malam, seorang buta berpamitan pulang dari
rumah sahabatnya. Sang sahabat membekalinya dengan sebuah lentera
pelita. Orang buta itu terbahak berkata: "Buat apa saya bawa
pelita? Kan sama saja buat saya! Saya bisa pulang kok."


Dengan
lembut sahabatnya menjawab, "Ini agar orang lain bisa melihat
kamu, biar mereka tidak menabrakmu." Akhirnya orang buta itu
setuju untuk membawa pelita tersebut. Tak berapa lama, dalam
perjalanan, seorang pejalan menabrak si buta. Dalam kagetnya, ia
mengomel, "Hei, kamu kan punya mata! Beri jalan buat orang buta
dong!" Tanpa berbalas sapa, mereka pun saling berlalu.

Lebih
lanjut, seorang pejalan lainnya menabrak si buta. Kali ini si buta
bertambah marah, "Apa kamu buta? Tidak bisa lihat ya? Aku bawa
pelita ini supaya kamu bisa lihat!" Pejalan itu menukas, "Kamu
yang buta! Apa kamu tidak lihat, pelitamu sudah padam!" Si buta
tertegun.. Menyadari situasi itu, penabraknya meminta maaf, "Oh,
maaf, sayalah yang ‘buta’, saya tidak melihat bahwa Anda adalah orang
buta." Si buta tersipu menjawab, "Tidak apa-apa, maafkan
saya juga atas kata-kata kasar saya." Dengan tulus, si
penabrak
membantu menyalakan kembali pelita yang dibawa si buta. Mereka pun
melanjutkan perjalanan masing-masing.

Dalam perjalanan
selanjutnya, ada lagi pejalan yang menabrak orang buta kita. Kali
ini, si buta lebih berhati-hati, dia bertanya dengan santun, "Maaf,
apakah pelita saya padam?" Penabraknya menjawab, "Lho, saya
justrumau menanyakan hal yang sama." Senyap sejenak. secara
berbarengan mereka
bertanya, "Apakah Anda orang buta?"
Secara serempak pun mereka menjawab, "Iya.," sembari
meledak dalam tawa. Mereka pun berupaya saling membantu menemukan
kembali pelita mereka yang berjatuhan sehabis bertabrakan.

Pada
waktu itu juga, seseorang lewat. Dalam keremangan malam, nyaris saja
ia menubruk kedua orang yang sedang mencari-cari pelita tersebut. Ia
pun berlalu, tanpa mengetahui bahwa mereka adalah orang buta. Timbul
pikiran dalam benak orang ini, "Rasanya saya perlu membawa
pelita juga, jadi saya
bisa melihat jalan dengan lebih baik, orang
lain juga bisa ikut melihat jalan mereka."

Pelita
melambangkan terang kebijaksanaan. Membawa pelita berarti menjalankan
kebijaksanaan dalam hidup. Pelita, sama halnya dengan kebijaksanaan,
melindungi kita dan pihak lain dari berbagai aral rintangan
(tabrakan!).


Si
buta pertama mewakili mereka yang terselubungi kegelapan batin,
keangkuhan, kebebalan, ego, dan kemarahan. Selalu menunjuk ke arah
orang lain, tidak sadar bahwa lebih banyak jarinya yang menunjuk ke
arah dirinya sendiri. Dalam perjalanan "pulang", ia belajar
menjadi bijak melalui peristiwa demi peristiwa yang dialaminya. Ia
menjadi lebih rendah hati karena menyadari kebutaannya dan dengan
adanya belas kasih dari pihak lain. Ia juga belajar menjadi pemaaf.


Penabrak
pertama mewakili orang-orang pada umumnya, yang kurang kesadaran,
yang kurang peduli. Kadang, mereka memilih untuk "membuta"
walaupun mereka bisa melihat.

Penabrak kedua mewakili mereka
yang seolah bertentangan dengan kita, yang sebetulnya menunjukkan
kekeliruan kita, sengaja atau tidak sengaja. Mereka bisa menjadi
guru-guru terbaik kita. Tak seorang pun yang mau jadi buta, sudah
selayaknya kita saling memaklumi dan saling membantu.

Orang
buta kedua mewakili mereka yang sama-sama gelap batin dengan kita.
Betapa sulitnya menyalakan pelita kalau kita bahkan tidak bisa
melihat pelitanya. Orang buta sulit menuntun orang buta lainnya.
Itulah pentingnya untuk terus belajar agar kita menjadi makin melek,
semakin bijaksana.

Orang terakhir yang lewat mewakili mereka
yang cukup sadar akan pentingnya memiliki pelita
kebijaksanaan.

Sudahkah kita sulut pelita dalam diri kita
masing-masing? Jika sudah, apakah nyalanya masih terang, atau bahkan
nyaris padam? JADILAH PELITA, bagi diri kita sendiri dan sekitar
kita.

Sebuah pepatah berusia 25 abad mengatakan: Sejuta pelita
dapat dinyalakan dari sebuah pelita, dan nyala pelita pertama tidak
akan meredup. Pelita kebijaksanaan pun, tak kan pernah habis
terbagi.

Bila mata tanpa penghalang, hasilnya adalah
penglihatan. Jika telinga tanpa penghalang, hasilnya adalah
pendengaran. Hidung yang tanpa penghalang membuahkan penciuman.
Pikiran yang tanpa penghalang hasilnya adalah kebijaksanaan.

0 komentar:

di obrak-abrik by : YaYowae @ProDUcTiOn Di StUdiO wOnG GeraH